Pagi itu udara masih sejuk ketika Lydia melangkah cepat menuju gereja. Jam di ponselnya baru menunjukkan pukul enam, padahal ibadah baru akan dimulai pukul tujuh. Tapi aturan tim multimedia sangat jelas: satu jam sebelum ibadah, semua petugas harus sudah siap di tempat.
Begitu masuk ruang operator, Lydia langsung menyalakan komputer dan tombol LED. Ia menarik napas… lalu sedikit tertegun.
“Pak Dani sudah datang,” gumamnya pelan.
Dani yang adalah ketua tim multimedia sekaligus operator video mixer pada ibadah pagi itu terkenal sebagai seorang yang perfeksionis. Di matanya semua harus rapi, semua harus tepat, dan… semua hal sekecil-kecilnya selalu dikomentari.
Benar saja, belum lima menit Lydia membuka ProPresenter, suara Dani terdengar.
“Lyd, itu background-nya terlalu terang. Tulisan jadi kurang kelihatan.”
“Oh, iya Pak, saya ganti dulu,” jawab Lydia cepat.
Beberapa menit kemudian…
“Font-nya kok beda dari template standar?”
“Iya Pak, ini dari Ppt pengkhotbah…”
Dani menghela napas pelan. Lydia bisa merasakannya pagi ini ia akan melewatinya dengan tidak mudah.
Masalah utama muncul ketika file khotbah dibuka dan ditayangkan di layar utama.

“Lho… kok tulisannya acak begini?” Lydia panik melihat huruf-huruf berantakan di layar.
Ia coba menggantikan font, atur ulang layout, tapi usahanya tidak berhasil. Ketika ditayangkan di layar utama masih saja berantakan.
“Ini sering kejadian kalau Ppt-nya beda versi,” komentar Dani.
Lydia berpikir cepat.
“Pak, bagaimana kalau saya screenshot tiap slide langsung di Ppt menjadi JPEG, lalu saya import ke ProPresenter? Biar rapi dan mengurangi kesalahan urutan.”
Dani menggeleng.
“Lebih cepat kalau di-export dulu jadi JPEG dari PowerPoint, baru kita susun satu-satu ke dalam bentuk Ppt yang baru kemudian diimpor di ProPresenter.”
“Justru cara itu lebih lama, Pak. Kita kerja dua kali. Waktunya mepet dan cara itu berisiko urutannya terbolak-balik”
Mereka beradu pendapat sampai Lydia terdiam dengan wajah cemberut. Pak Dani mengingatkan Lydia untuk segera mengambil tindakan, tapi Lydia masih tidak setuju dengan cara pak Dani. Terlalu bertele-tele dan memakan waktu. Sebaliknya menurut pak Dani cara Lydia tidak praktis. Lydia bergumam kesal. “Kenapa sih kalau kirim materi khotbah mesti mepet begini. Kalau kemarin-kemarin kan aku bisa benerin dulu di rumah… huh”
Akhirnya Dani berkata, “Ya sudah, Lyd. Kamu putuskan saja. Kerjakan cara apa yang menurutmu paling cepat.”
Deg.
Ini pertama kalinya Lydia benar-benar diminta mengambil keputusan sendiri.
Dengan tangan agak gemetar, ia mulai men-screenshot slide demi slide Pptnya. Fokus, cepat, dan rapi. Para tim multimedia yang lainnya memperhatikan Lydia dan tak satu pun yang berani mengusiknya.
Begitu selesai segera Lydia mengimpornya di Propresenter. Hatinya sedikit tenang.
Baru saja selesai, masalah lain datang.
“Video pengumuman belum masuk ya?” tanya Dani.

“Sudah dikirim lewat WA… tapi… aduh…” Lydia menatap layar ponselnya panik.
“Memori saya penuh, Pak. Nggak bisa diunduh.”
Tanpa banyak bicara “Pakai HP saya.” Dani langsung mendekat seraya mengarahkan hpnya ke layar komputer dan melakukan scanning QRC.
Beberapa detik kemudian, video berhasil diunduh.
“Sudah aman,” kata Dani singkat.
Jam digital di layar komputer menunjukkan: tiga menit lagi ibadah dimulai.
Slide sudah rapi. Video sudah siap ditayangkan. Audio dicek dan berjalan dengan normal. Semuanya beres.
Tim multimedia yang terdiri dari photographer, cameramen, dan operator sound sudah berkumpul.
“Mari kita berdoa dulu,” ujar Pak Dani.
Mereka membentuk lingkaran kecil di ruang operator.
“Tuhan, terima kasih untuk pagi ini. Tolong pelayanan kami, supaya semua berjalan baik untuk kemuliaan-Mu…”
Saat amin diucapkan, waktu menunjukkan pk 06.59 saatnya Lydia menayangkan video countdown tanda 1 menit lagi ibadah dimulai.
Mereka langsung mengambil posisi masing-masing.
Dan… ibadah pun berjalan lancar.
Ketika khotbah dimulai, Lydia masih duduk di ruang operator, tangannya tetap siaga di atas mouse. Namun hatinya mulai lebih tenang.
Pendeta berkata,
“Seorang pemimpin perlu membimbing, tapi juga memberi ruang bagi yang dipimpin untuk bertumbuh dan mengambil keputusan. Dan seorang anak rohani perlu berani bertanggung jawab atas pilihannya.”
Kalimat itu seperti ditujukan langsung padanya.
Pendeta berkata dengan suara lembut namun tegas,
“Seorang pemimpin bukan hanya ditugaskan untuk memimpin, tetapi untuk membesarkan, membimbing, dan mempersiapkan generasi berikutnya.”
Lydia terdiam.
Pendeta berkharisma itu melanjutkan,
“Fathering the next generation bukan soal usia atau jabatan. Ini tentang hati seorang ayah yaitu karakter hati yang mau membimbing, menegur dengan kasih, memberi kesempatan, dan mempercayakan tanggung jawab.”
Kalimat itu menembus hatinya.
Ia teringat pagi tadi.
Tentang Pak Dani yang perfeksionis…
tentang perbedaan pendapat…
tentang saat ia akhirnya diberi kepercayaan mengambil keputusan…
dan tentang bagaimana, di saat genting, Pak Dani tidak meninggalkannya, tetapi justru membantunya diam-diam.
Lydia membuka Alkitab kecil di ponselnya dan membaca pelan:
“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia”
(Mazmur 103:13)
Ia tersenyum.
Ia mulai mengerti.
Pak Dani bukan sedang menjatuhkannya.
Ia sedang membentuk Lydia dengan caranya sendiri.
Pendeta menutup khotbah dengan ayat:

“Apa yang telah engkau dengar dari padaku… percayakanlah kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain”
(2 Timotius 2:2)
Air mata Lydia hampir jatuh.
Ia menyadari, pelayanan multimedia bukan hanya soal teknis, kamera, atau slide.
Ini tentang estafet iman dan tanggung jawab.
Tentang generasi yang lebih tua membimbing yang lebih muda.
Tentang pemimpin yang bukan hanya menuntut hasil, tetapi membentuk hati.
Fathering the next generation bukan hanya tugas orang tua,
tetapi tugas setiap pemimpin, pembina, guru, dan pelayan Tuhan.
Karena gereja yang kuat bukan hanya gereja yang hebat hari ini,
tetapi gereja yang mempersiapkan generasi esok hari.
Sebelum pulang, tim multimedia berkumpul kembali untuk evaluasi dan berdoa. Mereka bersyukur tidak ada slide yang berantakan. Video pengumuman tampil tepat waktu. Semua mengalir tanpa gangguan.
Dan pagi itu, di ruang kecil operator multimedia,
Tuhan sedang membentuk satu generasi…
melalui seorang pemimpin yang membimbing,
dan seorang anak rohani yang belajar percaya diri di hadapan-Nya.
“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mazmur 103:13)
*******************************************************************************************************
Silakan klik untuk Membantu kebutuhan keluarga


