Pagi itu, lapangan upacara sekolah tampak lebih khidmat dari biasanya. Matahari baru saja naik, sinarnya lembut ditutup awan mendung menudungi barisan para siswa yang berdiri rapi. Di sisi kanan berdiri para pengurus OSIS lama, sementara di sisi kiri berbaris para pengurus OSIS yang baru. Dengan langkah tegap dan serempak, kedua barisan itu maju ke depan, tepat di hadapan kepala sekolah dan para guru.

Upacara pelantikan dan serah terima jabatan pun dimulai.
Mathew, Ketua OSIS lama, melangkah maju dengan penuh percaya diri. Wajahnya tenang, sorot matanya memancarkan kerendahan hati. Dengan suara jelas, ia menyampaikan laporan kegiatan yang telah dilaksanakan selama masa kepemimpinannya. Program demi program disampaikan—kegiatan akademik, pelayanan sosial, lomba-lomba, hingga pembinaan karakter. Semua berjalan dengan baik, bahkan melampaui harapan.
Mathew menutup laporannya dengan kalimat sederhana namun penuh makna,
“Semua ini kami lakukan bukan dengan kekuatan kami sendiri, tetapi karena pertolongan Tuhan.”
Di antara para guru, Ibu Mariana tersenyum bangga. Dalam hatinya terngiang firman Tuhan:

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
(Amsal 22:6)
Hatinya penuh syukur melihat pertumbuhan anak-anak didiknya, bukan hanya dalam prestasi akademik, tetapi juga dalam kepemimpinan dan karakter. Mathew memang layak menjadi teladan. Ia dikenal sopan, bertanggung jawab, dan rendah hati. Di lapangan, ia cekatan bermain bulutangkis. Di ruang seni, jemarinya piawai memetik gitar. Di kelas, nilainya selalu memuaskan. Sosok pemimpin muda yang seimbang dalam bakat, kecerdasan, dan sikap.
Kini, tongkat estafet kepemimpinan berpindah tangan.
Vale, ketua OSIS yang baru, melangkah maju. Ada semangat dan harapan di wajahnya. Ia menerima simbol jabatan dengan penuh hormat. Semua mata tertuju padanya—harapan sekolah kini ada di pundaknya. Vale dikenal sebagai anak yang sopan, cerdas, dan bertanggung jawab. Dalam hatinya, ia berjanji akan melanjutkan apa yang telah dirintis, bahkan membawanya lebih jauh.

Dengan suara tenang ia berkata, “Saya mohon dukungan dan doa dari semua guru dan teman-teman. Kiranya Tuhan memimpin setiap langkah kami.”
Upacara ditutup dengan doa dan tepuk tangan meriah. Di lapangan itu, bukan hanya terjadi pergantian jabatan, tetapi juga penyerahan harapan.
Ibu Mariana kembali tersenyum. Ia percaya, di tangan anak-anak muda yang takut akan Tuhan, bertanggung jawab, dan siap berkarya, masa depan sekolah ini akan semakin indah.
Karena pemimpin sejati bukan hanya mereka yang pandai memimpin, tetapi mereka yang mau melayani dengan hati.
“Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”
(1 Timotius 4:12)
**************************************************************************************
Silakan klik untuk Mempermudah kebutuhanmu
****************************************************************************************
![]()


