Sentuhan Baru di Kelas Ibu Intan

Sekolah ibu Intan mendapat bantuan satu set alat Interactive Flat Panel. Segenap guru sangat bahagia menerima hadiah yang canggih, mahal, dan akan sangat membantu proses pembelajaran.

Beberapa hari kemudian, para guru mengikuti pelatihan penggunaan alat baru itu. Di antara mereka, Ibu Intan yang tampak paling antusias. Matanya berbinar saat Pak Okta guru TIK menjelaskan berbagai fitur dengan sabar.

“Bu Intan, Ibu cepat sekali menangkap caranya,” kata pak Okta.

Ibu Intan tersenyum. “Saya ingin alat ini benar-benar bisa dipakai maksimal untuk anak-anak.”

Sejak hari itu, saat tidak ada jadwal mengajar, Ibu Intan datang lebih awal ke ruang Smart Digital. Ruang yang disediakan khusus untuk belajar ineteraktif menggunakan IFP . Ia menyalakan layar, mencoba menulis dengan pena digital, membuka video, dan menghubungkan dengan aplikasi Scratch.

“Kalau saya tekan di sini… oh, bisa langsung digeser,” gumamnya sambil tertawa kecil.

Kadang ia berbicara pada dirinya sendiri,
“Besok anak-anak pasti senang.”

Ia teringat firman Tuhan,
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya…” (Amsal 22:6)

“Apa Bu? Ruang apa??” tanya Aurora bingung.

“Kenapa kita pindah ruang?” tanya Bryan penasaran.

“Kita pindah ke ruangan yang ada alat Interactive Flat Panel.” Jawab ibu Intan sambil tersenyum memaklumi keheranan para siswa.

Para siswa saling berpandangan, mereka baru mendengar nama alat canggih itu.

Para siswa berbisik-bisik penuh rasa ingin tahu.

Interactive Flat Panel itu apa, ya?” tanya Riko pelan.

“Katanya layar sentuh besar, bisa buat belajar kayak di film-film,” jawab Jessi sambil tersenyum.

. Para siswa masuk ke kelas Smart Digital dan langsung berhenti melangkah.

“Wah… layarnya besar sekali!” seru Kevin.

“Bu, itu bisa disentuh?” tanya Kevin tidak sabar.

Ibu Intan tersenyum hangat. “Bisa sekali. Hari ini kita akan belajar dengan cara yang baru.”

Ia menyalakan layar IFP, masuk ke Google Chrome mengarahkan ke platform Scratch.

“Hari ini kita akan memeriksa tugas coding kalian minggu lalu,”

“Aduh .. Bu, belum selesai. Projekku tidak bisa jalan.. aku masih bingung” kata Dimas dengan wajah kecewa”

“Coba kita sama-sama periksa codenya Dimas ya…”

Bu Intan mengeksekusi animasi milik Dimas. Karakter burung yang dibuat Dimas tiba-tiba berhenti.

“Lho, kok berhenti, Bu?” tanya Riko.

“Nah, itu dia masalahnya,” jawab Ibu Intan. “Sekarang, siapa yang mau membantu Dimas mencari bug pada program ini dan memperbaikinya?”

Para siswa langsung mengangkat tangan.

“Kelompok satu, silakan diskusi dulu,” kata Ibu Intan.

Mereka berkumpul, saling berbisik.

“Aku rasa di bagian perintah ini salah.”
“Coba lihat variabelnya.”
“Mungkin arah geraknya keliru.”

Tak lama kemudian, Dimas yang sudah mendapat petunjuk dari Kevin berani  maju ke depan.

“Bu, boleh saya coba?”
“Tentu, silakan.”

Dengan hati-hati, Dimas menyentuh layar, memindahkan satu blok kode.

“Sekarang kita jalankan ya…” katanya gugup.

Animasi bergerak sedikit… lalu berhenti lagi.

“Masih error,” gumam Dimas.

“Tidak apa-apa,” kata Ibu Intan lembut. “Kesalahan itu bagian dari belajar.”

Äyo, siapa yang bisa membantu?”

“Bu, saya mau coba ganti perintah ulangannya,” ujar Riko.

“Silakan.”

Ia mengubah satu baris kode, lalu menekan ikon bendera hijau.

Tokoh animasi bergerak lancar melintasi layar.

“Berhasil!” seru seluruh kelas.

Mereka bertepuk tangan dengan gembira.

“Lihat,” kata Ibu Intan sambil tersenyum bangga, “kalian tidak hanya belajar coding, tapi juga belajar bekerja sama, berpikir kritis, dan tidak menyerah.”

Dimas mengangguk. “Ternyata seru ya, Bu, belajar kayak gini.”

Ibu Intan menatap murid-muridnya dengan penuh syukur. Dalam hatinya ia berdoa,
“Tuhan, terima kasih Engkau pakai teknologi ini untuk membentuk karakter anak-anak.”

Sejak hari itu, kelas Mekatronika menjadi kelas yang paling dinanti. Di sana, anak-anak belajar bukan hanya tentang kode, tetapi juga tentang kesabaran, kerja sama, dan menggunakan talenta untuk memuliakan Tuhan.

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. (Amsal 22:6)

*****************************************************************************************************************

Silakan klik untuk Membantu kebutuhan keluarga

Translate »
Scroll to Top