Siang itu mentari bersinar lembut, tidak terlalu terik. Di sebuah rumah sederhana namun rapi, seorang ibu berdiri di halaman depan sambil memperhatikan taman kecilnya. Bunga-bunga kertas tumbuh subur, rumput tampak hijau, dan beberapa daun kering berserakan. Ia menyiangi daun-daun kering yang hampir gugur, pekerjaan ringan yang biasanya ia lakukan bersama anak-anaknya yang sudah remaja pada setiap akhir pekan.
Tiba-tiba, dari arah jalan setapak di depan rumah, melintas seorang bapak tua. Langkahnya pelan, tubuhnya agak membungkuk. Di kepalanya terpasang sebuah caping lusuh yang melindunginya dari terik matahari. Pakaiannya sederhana, dan wajahnya memperlihatkan garis-garis usia serta kelelahan hidup.

Saat melewati pagar rumah itu, bapak tua tersebut berhenti. Ia menoleh ke arah ibu yang sedang berdiri di halaman, lalu memberanikan diri mendekat.
“Permisi, Bu…” sapanya dengan suara pelan namun penuh harap.
“Saya boleh membersihkan taman ini? Menyapu daun-daun kering dan merapikan rumput… kalau Ibu berkenan. Saya berharap bisa mendapat sedikit bayaran.” Ibu itu terdiam sejenak. Sebenarnya, ia sama sekali tidak membutuhkan bantuan. Taman itu bukan taman besar, dan selama ini ia selalu mengerjakannya bersama anak-anaknya. Selain sebagai pekerjaan rumah, kegiatan itu juga menjadi waktu kebersamaan mereka. Namun ketika ia memandang wajah bapak tua itu, mulai dari tatapan matanya yang jujur, tangannya yang kasar, hingga sikapnya yang begitu rendah hati, hati ibu itu pun tergerak. Ia bisa saja menolak dengan sopan, tetapi ia tahu bahwa permohonan bapak itu bukan sekadar tentang taman. Itu tentang kebutuhan hidupnya.

“Baik, Pak,” jawab ibu itu akhirnya dengan senyum hangat.
“Silakan dibersihkan. Terima kasih sebelumnya.”
Wajah bapak tua itu langsung berbinar. Ia menunduk hormat berkali-kali.
“Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih…”
Dengan penuh semangat, ia mulai menyapu daun-daun kering, merapikan tanaman, dan membersihkan sudut-sudut taman dengan teliti, seolah taman kecil itu adalah tanggung jawab besar yang harus ia selesaikan sebaik mungkin.
Dari teras rumah, sang ibu memperhatikannya sambil berpikir dalam hati: terkadang, kebaikan kecil yang kita berikan, bisa menjadi pertolongan besar bagi orang lain. Dan siang itu, taman rumahnya bukan hanya menjadi lebih bersih, tetapi juga menjadi saksi sebuah kepedulian yang sederhana namun bermakna.

Kita sering berpikir berkat harus besar agar berarti. Padahal, Tuhan kerap memakai kebaikan kecil untuk menguatkan hidup seseorang.
Hari ini, mari belajar bersyukur dan peduli.
Karena segala sesuatu ada dalam genggaman-Nya.
Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? (Yakobus 2:5)
Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik. (Yakobus 2:8)
***********************************************************************************************************************
![]()


