Persahabatan Sang Pemain Basket

Di sore hari yang hangat, Talen dan Samuel bermain basket di lapangan sekolah. Mereka tertawa, saling memberi umpan seiring dengan suara berdecit dari sepatu mereka. Talen berlari sambil mendribbel bola, “Sam! Jaga yang bener! Jangan kasih celah!” Samuel pun tertawa sambil berusaha membayangi Talen, “Halah, gaya lo! Sini bolanya, paling juga airball lagi!” Talen dengan cerdiknya melakukan gerakan tipuan, lalu mengoper bola ke Samuel secara mendadak,  “Nih, tangkap! Buktiin omongan lo!” Dengan cekatan Samuel menangkap bola dan sigap langsung melakukan tembakan jump shot, “Masuk! Liat tuh, jaringnya sampe bunyi swish!” Talen dengan sportif bertepuk tangan, namun napasnya mulai berat, “Oke, oke… poin buat lo. Tapi gue nggak bakalan kalah di babak terakhir!”

Mereka terus bermain selama beberapa menit lagi. Gerakan mereka melambat karena tenaga terkuras. Samuel menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya dengan napas terengah-engah, “Sumpah… Len… gue… gue udah nggak kuat. Kaki gue kayak mau copot.” Talen akhirnya membungkuk sambil memegang lutut, napasnya juga sangat berat, dengan terengah-engah ia pun menyahut, “Sama… kaos gue udah bisa diperes nih, basah semua” Akhirnya, Samuel menangkap bola dan memegangnya di pinggang, menandakan ia menginginkan permainan mereka berhenti.

Talen pun berjalan pelan menuju pinggir lapangan dan duduk di pinggir lapangan yang masih terasa hangat. Samuel menyusul di sampingnya dan  duduk di bangku beton tepat di samping Talen. Sambil mengatur napasnya Samuel berkata kepada Talen, “Tembakan terakhirmu tadi cuma keberuntungan, Len.”Tidak mau kalah Talen pun membalas dengan seringai lebar, “Keberuntungan atau bukan, poinnya tetap masuk, kan?” Tiba-tiba  Samuel melihat ke arah matahari terbenam, “Gila, keren banget langitnya hari ini. Kita main dari jam berapa tadi?” Dengan tersenyum lebar sambil melihat ke langit yang berwarna oranye keunguan Talen menjawab,  “Dari jam empat lewat tadi. Nggak kerasa ya? Padahal tadi rencananya cuma mau latihan lay-up sebentar.” Dengan menyenggol bahu Talen, Samuel meminta konfirmasi, “Tapi seru, kan? Walaupun besok mungkin badan gue pegel semua pas bangun tidur.” Dengan tertawa kecil Talen menyahut, “Pegal mah urusan besok, Sam. Yang penting hari ini kita menang… eh, maksud gue, yang penting hari ini seru.” Samuel membalas, “Menang? Siapa yang menang? Tadi skornya seri ya!” Talen tertawa senang melihat Samuel gusar,  “Hahaha, iya deh, seri. Besok kita lanjutin lagi?” Samuel pun bangkit berdiri sambil menawarkan tangan untuk membantu Talen bangun, “Pastinya. Tapi besok jangan lupa bawa air minum lebih banyak, ya!” Talen pun menyambut tangan Samuel, “Siap, Bos! Eh,… besok ada ulangan Matematika lho” Samuel benar-benar terkejut, “Oh iya, aku belum belajar. Mana soalnya bu Jul susah-susah lagi” Meskipun Talen sepakat dengan apa yang dikatakan Samuel, ia tetap mengucapkan kata-kata positif, “Ah kita masih sempat belajar. Yuk kita pulang, mandi, terus belajar”

Suara bola yang tadinya memantul kini digantikan oleh hening sore dan deru napas mereka. Di antara keringat dan lelah itu, ada ikatan yang semakin kuat bahwa bagi mereka, basket bukan hanya soal memasukkan bola ke ring, tapi tentang siapa yang ada di samping mereka saat lampu lapangan mulai meredup. Keduanya berjalan meninggalkan lapangan sambil saling merangkul bahu, meninggalkan bayangan panjang di bawah sisa cahaya matahari. Sebuah potret persahabatan yang sangat hangat. Momen seperti itu kelak akan menjadi kenangan yang paling berkesan di masa sekolah bagi mereka berdua.

Malam pun tiba. Talen berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit. Kakinya masih terasa pegal. Ia tak sanggup lagi untuk menfokuskan pikiran apalagi untuk belajar Matematika. Ia membolak-balik bantal, tak bisa tidur karena kelelahan dan pikirannya masih dipenuhi suara bola memantul. Duk… duk… duk…Bunyi itu seolah bergaung di dinding kamarnya yang sunyi. Setiap kali ia memejamkan mata, ia seolah kembali ke lapangan semen yang getas terbakar teriknya sinar matahari. Ia bisa merasakan tekstur kasar kulit bola di ujung jarinya, bau keringat yang menyengat, dan derit sepatu yang beradu dengan lantai. Ia menghela napas panjang, mencoba merelaksasikan otot betisnya yang terus berdenyut dan protes karena dipaksa berlari berjam-jam tanpa henti. Tadi sore, ia sengaja tetap tinggal di lapangan saat teman-temannya sudah pulang. Ia melakukan seratus tembakan tambahan, tetapi satu kegagalan terakhir di menit-menit akhir latihan tadi terus menghantuinya. Bola itu memutar di bibir ring, ragu sejenak, sebelum akhirnya jatuh ke arah yang salah. “Satu inci lagi,” gumam Talen pelan pada kegelapan.

Ia bangkit duduk, menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur. Di sudut ruangan yang remang, bola basketnya tergeletak diam. Namun di kepala Talen, bola itu tidak pernah berhenti bergerak. Baginya, suara pantulan itu bukan sekadar bising; itu adalah detak jantungnya, ambisinya yang menolak untuk beristirahat. Talen tahu, besok pagi saat fajar menyingsing, ia akan kembali ke sana. Ia akan menaklukkan rasa pegal itu, hingga suara pantulan bola di kepalanya tak lagi terdengar seperti kegagalan, melainkan sebuah ritme kemenangan yang pasti. Akhirnya, dengan satu helaan napas berat, ia kembali merebahkan diri, membiarkan rasa lelah perlahan-lahan menariknya ke alam bawah sadar, tepat saat bayangan bola di pikirannya akhirnya masuk dengan sempurna ke dalam jaring.

Sementara itu, Di rumahnya, Samuel tidur tidak nyenyak. Ia mengigau, tangannya bergerak seolah sedang menggiring bola dan melempar ke ring. Mimpinya bercampur antara permainan dan tugas sekolah yang belum selesai. Suasana di kamar Samuel jauh dari kata tenang. Selimutnya sudah melintir tak beraturan, separuh menjuntai ke lantai akibat gerakannya yang gelisah. Meski matanya terpejam erat, napasnya pendek-pendek, mencerminkan keriuhan yang terjadi di balik tempurung kepalanya. Tiba-tiba, tangan kanannya bergerak di udara. Jarinya melakukan gerakan flick, sebuah gerakan refleks sempurna seolah ia baru saja melepaskan tembakan jump shot yang krusial. “Sedikit lagi…kiri…” gumamnya parau, suaranya nyaris tak terdengar. Dalam mimpinya, Samuel sedang berada di tengah lapangan yang penuh sesak. Sorak-sorai penonton membahana, namun anehnya, papan skor di atas lapangan tidak menampilkan angka, melainkan deretan soal Matematika yang belum ia pecahkan. Ia mencoba melakukan dribble melewati lawan, tetapi bola di tangannya mendadak berubah menjadi tumpukan buku cetak yang berat dan licin. “Nomor lima… rumusnya…” racaunya lagi. Dahinya berkerut dalam. Ia mencoba melakukan lay-up, namun ring basket itu terus menjauh, berubah menjadi wajah gurunya bu Julia  yang sedang mananyakan jawaban Matematika yang barusan dijelaskan. Samuel terjebak dalam dilema bawah sadar: antara keinginan untuk mencetak poin kemenangan atau ketakutan akan nilai jelek yang menghantui. Tangannya kembali bergerak, kali ini seolah sedang memantul-mantulkan bola dengan cepat, crossover yang tajam, namun di dalam mimpinya, ia sebenarnya sedang mencoba menghindari kejaran soal-soal Amplify yang telah antri di Google Classroomnya.

Malam itu bagi Samuel bukanlah waktu istirahat, melainkan babak tambahan yang melelahkan antara gairah di lapangan dan tanggung jawab di kelas yang terus beradu tanpa pemenang yang jelas.

Keesokan harinya di kelas, Bu Julia membagikan tes berbasis laptop. Talen, Samuel, dan teman-teman sekelasnya fokus menatap layar laptop. Cahaya biru dari layar laptop memantul di wajah-wajah yang tegang. Di dalam kelas yang sepi, hanya terdengar bunyi klik mouse yang ritmis dan desah napas tertahan. Bu Julia berdiri di depan kelas, melihat layar laptop setiap siswa dan melihat proses yang mereka lakukan. Sesekali melirik jam dinding. Talen mencoba memfokuskan matanya yang masih terasa berat. Kepalanya berdenyut, dan setiap kali ia membaca soal, bayangan bola basket yang berputar seolah menutupi teks di layar. Di sebelahnya, Samuel berkali-kali membetulkan posisi duduk. Tangannya yang tadi malam mengigau kini terasa kaku saat memegang touchpad. Di sisi lain, Eva tampak tenang, jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, meski sesekali ia melirik ke arah kedua temannya Talen dan Samuel dengan raut mereka yang nampak cemas dan gelisah.

“Waktu habis. Silakan lihat hasil kalian masing-masing di slide 25,” instruksi Bu Julia tenang. Talen menarik napas panjang, lalu menggeser pointernya ke  tombol terakhir. Jantungnya berdegup kencang saat ikon loading berputar di layar. Kemudian, angka itu muncul. Jauh di bawah angka minimal yang ia harapkan. Hampir di saat yang bersamaan, Samuel melepaskan desah napas pendek yang terdengar seperti rintihan kecil. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan lemas, menatap nanar angka di layarnya yang tak jauh berbeda dengan milik Talen. Perlahan, Talen menoleh ke arah Samuel. Samuel pun melakukan hal yang sama. Tidak ada kata-kata yang terucap. Tatapan mereka berbicara lebih banyak dari kata-kata, campuran antara rasa malu, kelelahan yang luar biasa, dan kesadaran pahit bahwa hobi yang mereka cintai mulai menagih harga pada kehidupan sekolah mereka.

Eva melihat pemandangan itu. Ia hanya bisa terdiam, menggigit bibir bawahnya, tahu bahwa bagi Talen dan Samuel, kekalahan kali ini terasa lebih menyakitkan daripada gagal memasukkan bola ke dalam ring. Koridor sekolah riuh rendah dengan suara siswa yang berhamburan keluar kelas, namun di sudut dekat jendela, suasana terasa lebih berat. Talen masih terpaku pada hasil tes tadi, bahunya tampak merosot.

Samuel berjalan mendekat, menepuk pundak sahabatnya itu pelan. Tidak ada raut marah atau kecewa yang berlebihan di wajahnya, hanya ketenangan yang tulus. “Talen,” panggil Samuel pelan. Talen mendongak. “Kita berdua adalah sahabat. Hasil tadi… itu teguran buat kita. Kita harus memperbaiki diri. Kalau kita membagi waktu dengan tepat antara latihan dan belajar, kita bakalan bisa lebih fokus. Kita nggak perlu mengorbankan salah satunya.” Talen terdiam, meresapi kata-kata itu. Beban di dadanya perlahan terangkat berganti dengan rasa tanggung jawab yang baru.

Eva, yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka, melangkah mendekat dengan senyum manis yang menyemangati. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. “Aku sudah terpikir kalau-kalau hal ini terjadi sejak kemarin. Bagaimana kalau mulai sekarang kita buat jadwal belajar bersama? Aku bisa bantu kalian mengulang materi yang sulit di sela-sela waktu istirahat atau sebelum latihan sore.” Mendengar tawaran itu, mata Talen mulai kembali bersinar. Di saat yang sama, bu Julia berjalan melintasi gazebo. Ia sempat berhenti sejenak, melihat ketiga muridnya sedang berdiskusi serius namun positif. Tanpa sepatah kata pun, bu Julia memberikan anggukan mantap penuh dukungan sebelum berlalu, sebuah isyarat bahwa ia percaya mereka bisa bangkit. Talen mengangguk mantap, menyambut uluran tangan Samuel dan ide dari Eva. “Setuju. Mari kita buktikan kalau kita bisa menang di lapangan dan juga menang di kelas.”

Persahabatan mereka kini bukan sekadar tentang mengejar bola di lapangan, melainkan menjadi kompas yang saling mengarahkan. Dengan belajar yang lebih terarah, mimpi mereka untuk menjadi atlet tetap menyala, namun kali ini dengan fondasi masa depan yang lebih kokoh.

Persahabatan yang baik bukan hanya tentang bersenang-senang, tetapi tentang saling mendukung untuk menyeimbangkan hobi dan pendidikan demi meraih masa depan yang lebih cerah.

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. (Amsal 17:17)

***********************************************************************************************************************

Afiliasi Marketing

Translate »
Scroll to Top