
Mirza adalah seorang karyawan perempuan yang sangat menghargai waktu sendiri. Ia bukan tipe orang yang suka berkumpul dengan tetangga setiap malam. Bukan karena kesombongan, melainkan karena ritme kerja yang padat dan kebutuhan akan waktu istirahat sejenak untuk mengisi ulang energi. Rumah kecilnya selalu rapi, jendela selalu rapat saat malam ketika pekerjaan menumpuk tanpa celah, dan pagi hari ia sering tiba di meja kerja dengan segudang tugas yang menanti.

Namun menjelang malam Tahun Baru, sesuatu berubah. Di balik keramaian kota, Mirza merasakan kelelahan yang mendalam, muncul sebuah sinyal tipis dan halus yang menyadarkannya bahwa ia juga rindu untuk merasa diterima dalam komunitasnya. Dalam hati, ia menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk mencoba langkah yang selama ini ia hindari: menghadiri kumpul tetangga.
Mirza menarik napas dalam-dalam, menanggalkan rasa gugup yang pernah mengikatnya. Ia membantu menata panggangan, menyiapkan cobek bumbu untuk jagung, dan ikut bercakap-cakap tanpa terlalu memaksa diri. Perlahan, dialognya mengalir. Ia mendengar cerita-cerita kecil tentang rutinitas tetangga, tentang pekerjaan, tentang mimpi sederhana yang mereka pegang. Di tengah kehangatan itu, ia tersenyum, sebuah senyum yang terasa asing namun menyenangkan.
Mereka berjingkrak kecil mengikuti alun-alun lagu yang dimainkan, mereka berjoget bersama hingga hampir tengah malam. Saat lonceng waktu berdentang, semua orang bersalaman satu sama lain. “Selamat Tahun Baru! Sehat-sehat selalu”, ucap seorang ibu muda sambil memeluk Mirza. Ibu RT pun menyalaminya dengan senyum lebar, “Sukses yang mbak”. Mereka saling mendukung dengan tulus. Malam itu, tanpa sadar, Mirza merasakan rasa aman dan tenang yang selama ini ia cari, rasa dilindungi, merasa berada di komunitas yang peduli.

Pukul 12 malam, suara seru-seruan kecil berganti dengan keheningan kebersamaan. Mereka menatap langit yang cerah, menyaksikan kembang api dari kejauhan, lalu saling berpelukan singkat. Pukul 2 malam, satu per satu tetangga kembali ke rumah masing-masing. Rumah Mirza terasa berbeda kala ia menutup pintu.
Di dalam kamar, Mirza merenung. Ia merasa puas. Lingkungan sekitar menjadi tempat yang aman dan hangat, sebuah jaringan kecil yang menolongnya merasa tenang. Ia tidak lagi merasa sebagai orang yang terpisah dari warga sekitar, melainkan bagian dari sebuah komunitas yang saling melindungi dan mendukung.
Esok hari, ia tidak lagi menunggu kesempatan besar untuk berkumpul. Ia mulai melangkah pelan namun pasti, mengirim salam pagi pada tetangga di depan pagar, bertanya kabar, dan menawarkan bantuan jika dibutuhkan. Langkah sederhana itu membuat hubungan baru tumbuh, bukan karena kewajiban, tapi karena keinginan untuk saling menjaga satu sama lain.

Malam Tahun Baru itu menjadi momen istimewa, momen tepat bagi Mirza untuk berbaur dengan tetangganya. Bukan karena rasa ingin dipuji, melainkan karena ia menyadari bahwa kebahagiaan bisa lahir dari kehangatan kecil yang tumbuh dari interaksi sederhana dengan sesama. Dan mulai saat itu, Mirza tahu bahwa rumah bukan hanya tentang dinding dan pintu, melainkan tentang manusia-manusia yang mewarnai hari-harinya dengan tawa, bantuan, dan doa yang tulus.
Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. (Galatia 6:10)
************************************************************************************************************************
Selanjutnya: Momen Istimewa di Malam Tahun Baru

