Ketika Perbedaan Tak Lagi Jadi Penghalang Kasih

Pagi itu, saya membuka media sosial seperti biasa. Di antara berbagai unggahan, mata saya berhenti pada satu nama, ya tidak salah lagi itu nama saudara yang sudah lama tidak saya temui. Saya membaca tulisannya pelan-pelan… lalu menarik napas panjang.

“Wah… kita sudah sangat berbeda sekarang,” batin saya.

Sejak saat itu, satu pertanyaan terus muncul di pikiran saya: bagaimana jika kami bertemu lagi?

Lebaran selalu membawa makna pulang—bukan hanya pulang ke rumah, tetapi juga pulang ke hubungan yang sempat renggang. Tahun ini, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Ada satu momen pertemuan yang sejak awal justru saya khawatirkan.

Saya memiliki seorang saudara yang sudah lama tidak saya temui. Seiring berjalannya waktu, kami menjalani kehidupan masing-masing. Namun, melalui media sosial, saya tetap bisa melihat aktivitasnya. Dari situlah saya menyadari bahwa kami memiliki pandangan politik yang sangat berbeda. Apa yang ia bagikan sering kali bertentangan dengan nilai yang saya pegang—nilai tentang ketenangan, kedamaian, dan cara memandang kehidupan berbangsa.

Perbedaan itu pelan-pelan menumbuhkan kekhawatiran dalam diri saya. Saya mulai membayangkan berbagai kemungkinan: bagaimana jika kami bertemu dan tanpa sengaja membicarakan politik? Apakah suasana akan menjadi canggung? Atau bahkan berubah menjadi perdebatan?

Namun, hari Lebaran akhirnya mempertemukan kami.

Dengan perasaan yang sedikit was-was, saya datang dan bersiap untuk kemungkinan terburuk. Tetapi ternyata, apa yang saya bayangkan tidak terjadi. Kami saling menyapa dengan hangat, berjabat tangan, dan bermaaf-maafan dengan tulus. Kami duduk bersama, berbagi cerita tentang keluarga, pekerjaan, dan kenangan masa lalu.

Dan yang menarik—kami tidak membicarakan politik sama sekali.

Tidak ada perdebatan. Tidak ada ketegangan. Yang ada hanyalah suasana nyaman dan damai. Seolah kami berdua memahami, tanpa perlu diucapkan, bahwa hubungan ini lebih penting daripada perbedaan pendapat.

Di momen itu, saya teringat akan firman Tuhan dalam Roma 12:18:
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”

Ayat ini terasa begitu nyata. Saya tidak bisa mengontrol pandangan orang lain, tetapi saya bisa memilih sikap hati saya. Saya bisa memilih untuk tidak memancing perdebatan. Saya bisa memilih untuk menjaga damai.

Saya juga diingatkan bahwa kasih bukan tentang kesamaan pendapat, tetapi tentang kesediaan untuk tetap menghargai dan menerima. Seperti tertulis dalam Kolose 3:13:
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain.”

Dari peristiwa sederhana ini, saya belajar bahwa media sosial sering kali memperbesar perbedaan, tetapi pertemuan nyata justru mengingatkan kita pada kemanusiaan. Di balik setiap opini, ada pribadi yang pernah tertawa bersama kita. Ada hubungan yang Tuhan percayakan untuk kita jaga

Nilai karakter yang saya pelajari hari itu adalah tentang menghargai perbedaan, mengendalikan diri, dan mengutamakan kasih di atas ego. Tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan perdebatan. Kadang, memilih untuk tidak membahas sesuatu adalah bentuk kedewasaan rohani.

********************************************************************************************************************

Loading

Translate »
Scroll to Top