Di sebuah sekolah menengah pertama yang aktif dengan pembelajaran berbasis projek, mengajarlah seorang guru Matematika bernama Ranni. Ia dikenal sebagai guru yang teliti, tenang, dan selalu berusaha melihat potensi di balik setiap usaha siswa, bukan hanya hasil akhirnya.
Di sekolah tempat Ranni mengajar, ada satu tradisi yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir. Setiap siswa kelas IX wajib membuat projek Mekatronika, mulai dari alat penyiram tanaman otomatis, pintu berbasis sensor, hingga robot mini sederhana. Setelah projek selesai, para siswa harus mempresentasikan hasil karyanya di hadapan tiga orang guru lain selain guru Mekatronika. Tujuannya sederhana tapi bermakna yaitu melatih keberanian, kemampuan berpikir lintas disiplin, dan tanggung jawab atas karya mereka sendiri.

Ranni sering diminta menjadi salah satu guru pemberi penilaian dan saran. Meskipun ia guru Matematika, ia sadar bahwa untuk memberi masukan yang bermakna, ia tidak bisa hanya melihat dari sisi teori. Karena itu, Ranni mengambil langkah yang tidak semua orang mau lakukan: ia belajar sendiri tentang projek Mekatronika, khususnya penggunaan Arduino.
Pada hari-hari libur saat ia tidak harus menyiapkan materi Matematika atau mengoreksi tugas, Ranni meluangkan waktu untuk membuka tutorial, membaca modul, dan mencoba merangkai komponen sederhana. Ia belajar bagaimana sensor bekerja, bagaimana kode diunggah ke Arduino, dan bagaimana kesalahan kecil dalam rangkaian bisa membuat alat tidak berfungsi. Tidak jarang percobaannya gagal. Namun dari situlah ia memahami proses belajar yang juga dialami para siswanya.

Semua itu ia lakukan dengan satu harapan yaitu saat presentasi projek berlangsung, ia dapat benar-benar membantu. Ketika ada projek siswa yang belum sempurna, Ranni tidak hanya memberi komentar umum, tetapi mampu menawarkan solusi.
“Mungkin kamu bisa cek lagi logika kodenya,” katanya suatu kali,
“atau coba ubah posisi sensornya agar pembacaannya lebih stabil.”
Saat siswa menjelaskan projek mereka dengan gugup, Ranni mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia mengajukan pertanyaan yang mengajak berpikir, seperti alasan pemilihan jarak sensor atau bagaimana perhitungan waktu dan efisiensi dilakukan. Dari sudut pandang Matematika, ia membantu siswa melihat keterkaitan antara data, logika, dan hasil kerja alat.

Bagi Ranni, momen presentasi selalu istimewa. Ia melihat bagaimana Matematika hidup di luar buku teks antara lain menyatu dengan kabel, sensor, dan ide-ide kreatif para siswa. Lebih dari itu, ia merasa proses belajarnya sendiri menjadi teladan bahwa seorang guru pun tidak berhenti belajar.
Setiap kali sesi presentasi berakhir, Ranni pulang dengan perasaan puas. Bukan karena semua projek sempurna, tetapi karena ia tahu bahwa hari itu, para siswa kelas IX telah belajar berpikir kritis, berani mencoba, dan tidak takut pada kesalahan. Dan sebagai guru Matematika, Ranni bangga telah berusaha berjalan seiring dengan perkembangan murid-muridnya yaitu belajar, mencoba, dan tumbuh bersama.
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)
****************************************************************************************************************
![]()


