Damainya Hati Sheila Menapak Tahun Baru

Pada Minggu pertama di tahun yang baru, Sheila bangun lebih pagi dari biasanya. Udara pagi terasa sejuk, dan sinar matahari perlahan menyapa dari balik jendela. Bersama suami dan anak-anaknya, ia bersiap pergi ke gereja, sebuah kebiasaan yang selalu mereka jaga dari tahun ke tahun, bahkan setiap Minggu mereka tidak pernah terlambat ke gereja.

Arnold, suami Sheila menyiapkan mobilnya. Dengan perlahan roda mobil bergulir membawa serta Arnold, Sheila, dan kedua anaknya yang berpakaian rapi, meninggalkan rumah mereka menuju gereja dengan hati penuh sukacita.

Gereja Minggu ini tampak lebih ramai dari biasanya. Para jemaat saling bertukar senyum, seakan setiap orang membawa harapan baru yang segar. Sheila dan keluarganya duduk di bangku urutan nomor dua dari depan. Dengan khusyuk ia mendengar khotbah Pendeta yang dikutip dari Keluaran 33:14-15. Isinya:  Lalu Ia berfirman: “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.” Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. 

Sheila duduk tenang di bangkunya, hatinya dipenuhi rasa syukur. Ia mengingat kembali perjalanan hidupnya  yang telah ia lalui dengan kesehatan yang prima, perekonomian keluarga yang masih Tuhan pelihara, keluarga yang boleh tetap utuh dan saling menguatkan, serta karier yang dapat ia jalani dengan baik. Tidak semuanya mudah, tetapi tangan Tuhan selalu terasa menuntunnya, seperti Tuhan menyertai Musa. Ia yakin Tuhan akan menyertainya juga di sepanjang tahun ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ibadah awal tahun ini disertai dengan Perjamuan Kudus dan pembagian ayat Alkitab sebagai bekal rohani untuk menapaki perjalanan setahun ke depan. Ketika Perjamuan Kudus dibagikan, Sheila menundukkan kepala, roti dan anggur perjamuan yang diterimanya mengingatkan akan kasih Tuhan yang begitu besar, Tuhan yang rela datang ke dunia, menebus dosa setiap manusia, termasuk dirinya. Air matanya hampir jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena hatinya diliputi rasa syukur yang mendalam.

Di akhir ibadah, Sheila menerima selembar ayat Firman Tuhan yang dibagikan oleh para pelayan Tuhan. Sama seperti kedua anaknya yang tidak sabar segera membuka Alkitab  dan mencari ayat panduan yang didapatnya masing-masing.

 Sheila membaca ayat itu perlahan. Mazmur 133:1–3:“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun…”

Sheila merasakan sungguh ayat tersebut berbicara langsung kepadanya. Ia menjadikan ayat tersebut sebagai pengingat dan komitmennya di awal tahun untuk terus hidup rukun dan damai bersama keluarganya, saling mengasihi, saling mengampuni, dan saling menopang. Ia percaya, seperti yang tertulis dalam Firman itu bahwa di komunitas yang rukun seperti keluarga, di situlah Tuhan memerintahkan berkat dan kehidupan untuk selama-lamanya.

Dengan hati yang telah diteguhkan, Sheila melangkah pulang bersama keluarganya. Di dalam mobil, Sheila, suami, dan kedua anaknya saling berbagi berkat tentang ayat yang diterimanya masing-masing. Seperti tim Paduan suara, serta merta mereka kompak  menyanyikan lagu “Terimakasih Yesusku, buat anugerah yang Kau b’ri, sebab hari ini Tuhan adakan syukur bagiku”.  Terpancar kebahagiaan dan kedamaian dalam keluarga Sheila saat memasuki tahun yang baru saja dimulai.  Dan Sheila siap menjalaninya, bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan dengan iman, hati yang penuh syukur, dan damai sejahtera yang datang dari Tuhan.

Lalu Ia berfirman: “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.” (Keluaran 33:14)

******************************************************************************************************************************

Afiliasi Marketing

Loading

Translate »
Scroll to Top