Usia 21 tahun sering kali menjadi titik peralihan. Tidak lagi sepenuhnya remaja, tetapi juga masih belajar menjadi dewasa. Di usia inilah Maya berada. Maya seorang wanita muda yang mulai ingin mengurus dirinya sendiri dengan lebih mandiri, termasuk dalam urusan dapur.
Maya ingin belajar memasak. Bukan karena tuntutan, melainkan karena keinginan. Ia ingin bisa menyiapkan makanan sendiri, merasakan prosesnya, dan perlahan membangun kebiasaan hidup yang lebih tertata. Namun, ada satu hal yang ia pikirkan matang-matang, ia tidak ingin dapurnya kotor dan penuh asap. Maka pilihannya jatuh pada kompor listrik.
Harapan di Balik Belanja Online

Maya memesan kompor listrik melalui toko online. Baginya, belanja daring adalah solusi praktis, tidak perlu keluar rumah, banyak pilihan, dan terlihat efisien.
Sambil menunggu paket datang, Maya tetap menjalani aktivitas hariannya sebagai karyawati di perusahaan otomotif. Dalam suasana yang hangat, penuh canda dan cerita ringan, Maya sering mendengar pengalaman beragam tentang belanja online. Ada yang puas, ada pula yang kecewa.
Di balik obrolan itu, Maya menyimpan harapan sederhana, semoga kompor listriknya tiba dengan baik sehingga ia bisa segera mulai belajar memasak.
Ketika Barang Datang, Kenyataan Berbeda

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Paket sampai di depan rumah. Dengan wajah penuh antusias, Maya membuka kemasan itu. Namun senyum itu perlahan memudar. Kompor listrik yang ia beli ternyata rusak. Bagian tungkunya pecah dan sebagaian hancur berkeping-keping. Jelas tidak dapat digunakan. Harapan yang semula besar mendadak berubah menjadi kekecewaan kecil yang menusuk hati.
Meski begitu, Maya tidak panik. Ia menarik napas panjang dan memilih bersikap tenang. Ia menyadari bahwa marah bukanlah solusi. Ia segera mengambil keputusan untuk menyelesaikannya secara baik-baik.
Proses Mengembalikan dan Menerima
Maya menghubungi penjual dan mengajukan pengembalian barang. Prosesnya tidak instan, ada pesan yang harus dikirim, foto yang harus dilampirkan, dan waktu yang perlu ditunggu.
Namun Maya menjalaninya dengan sabar. Ia belajar bahwa menghadapi masalah tidak selalu harus dengan emosi, tetapi dengan sikap bertanggung jawab. Akhirnya, kompor listrik itu berhasil dikembalikan.
Pelajaran yang Lebih Berharga
Sejak kejadian itu, Maya mengambil keputusan penting. Ia tidak ingin lagi membeli barang-barang yang berisiko rusak —terutama peralatan elektronik— hanya berdasarkan foto dan deskripsi online.

Bukan berarti ia berhenti belanja daring. Ia hanya menjadi lebih selektif, lebih bijak, dan lebih sadar risiko.
Meskipun gagal mendapatkan kompor listrik, Maya justru memperoleh sesuatu yang lebih berharga: pengalaman hidup. Ia belajar bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang bisa memasak atau memiliki peralatan modern, tetapi tentang mengambil keputusan dengan lebih hati-hati dan belajar dari kegagalan kecil.
Dan Maya tahu, suatu hari nanti, ia tetap akan belajar memasak dengan cara yang lebih tepat, pilihan yang lebih matang, dan hati yang lebih bijaksana
Kadang, apa yang tidak kita dapatkan justru mengajarkan kita hal yang paling kita butuhkan. Maya tidak jadi mendapatkan kompor listik barang impiannya, namun ia mendapatkan pengalaman berharga, hati yang lebih bijaksana.
Kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau (Amsal 2:11)
*********************************************************************************************************************
![]()


