Lydia dikenal sebagai salah satu petugas multimedia yang paling dapat diandalkan di gerejanya. Hampir setiap kali bertugas, ia selalu datang lebih awal. Bahkan saat jadwal latihan di tengah minggu, Lydia tetap hadir meskipun hujan deras mengguyur sepanjang perjalanannya.

Rumahnya memang jauh dari gereja. Jika hujan deras turun, Lydia hanya mengenakan mantel hujan, menyalakan motornya, lalu menembus rintik bahkan derasnya hujan. Baginya, pelayanan bukan soal mudah atau tidak, tetapi soal setia atau tidak.
Namun, Minggu sore itu berbeda.
Lydia tidak menyangka jalanan begitu padat. Kendaraan hampir tidak bergerak. Klakson bersahutan di mana-mana. Waktu di dashboard motornya terus berjalan, sementara ia hanya bisa maju sedikit demi sedikit.
“Kenapa macet sekali ya, Tuhan?” gumam Lydia cemas.
Barulah ia teringat—hari itu bertepatan dengan libur panjang Imlek. Banyak orang bepergian, dan jalanan yang biasanya lengang di hari Minggu menjadi penuh.
Ibadah dimulai pukul 17.00, tetapi sebagai petugas multimedia, Lydia seharusnya sudah hadir pukul 16.00 untuk persiapan. Saat akhirnya ia tiba di halaman gereja, jam menunjukkan pukul 16.15.
Dengan napas terengah-engah, Lydia berlari menuju ruang multimedia. Pintu sudah terbuka. Dani, rekan pelayanannya, sedang menunggu.

Dani sudah membantu mengambil alih tanggung jawabnya. Ia telah menyalakan komputer dan memutarkan lagu-lagu rohani untuk persiapan ibadah.
“Aku… minta maaf ya, Dan… aku terlambat. Jalanan macet sekali,” kata Lydia tulus, masih mencoba mengatur napas.
Dani tersenyum.
“Iya, aku tahu. Kamu biasanya paling awal. Aku sampai cek HP, takut kamu kenapa-kenapa di jalan.”
Jawaban itu membuat hati Lydia lega. Ia bersyukur memiliki rekan pelayanan yang mau mengerti, bukan langsung menghakimi.
“Terima kasih sudah mulai duluan,” kata Lydia.
“Tenang saja. Sekarang kamu tinggal lanjutkan,” jawab Dani.
Meski sudah dibantu dan dimengerti, Lydia tahu ada tanggung jawab yang tetap harus dijalankan. Sesuai komitmen tim multimedia, setiap keterlambatan tetap dikenakan denda sebagai bentuk disiplin.
Setelah ibadah selesai, Lydia masuk ke ruang tim multimedia dan memasukkan Rp50.000,00 ke kas multimedia. Meskipun peraturan yang disepakati tim hanya Rp 10.000,00, tetapi Lydia memasukkan lebih karena ia menyadari dirinya jarang sekali membantu dalam hal finansial untuk pelayanan di bidang multimedia. Setelah itu, ia menulis pesan di grup WhatsApp:

“Shalom teman-teman, saya minta maaf karena hari ini datang terlambat. Saya terjebak macet karena libur panjang Imlek dan kurang mengantisipasi waktu perjalanan. Saya belajar untuk lebih mempersiapkan diri supaya ke depan tidak terulang lagi. Terima kasih untuk pengertiannya.”
Tak lama kemudian, balasan mulai berdatangan.
“Semangat, Lydia 🙏”
“Tetap setia melayani ya.”
“Terima kasih sudah bertanggung jawab.”
Lydia tersenyum membaca satu per satu pesan itu. Ia merasa ditegur, tetapi juga dikuatkan. Hari itu Tuhan mengajarinya sesuatu: kesetiaan bukan hanya soal hadir saat keadaan mendukung, tetapi juga kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan belajar darinya.
Malam itu, sepulang ibadah, Lydia berdoa dalam hati:
“Tuhan, terima kasih untuk kesempatan melayani. Ajari aku bukan hanya setia, tetapi juga bertanggung jawab dan rendah hati.”
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
Lukas 16:10a
***********************************************************************************
Silakan klik untuk Membantu kebutuhan keluarga
![]()


