Pada suatu masa, bangsa Israel hidup dalam penindasan di Mesir. Mereka diperbudak, dipaksa bekerja keras, dan jeritan mereka naik kepada Tuhan. Maka Tuhan memanggil seorang pemimpin yaitu Musa. Tuhan memilih Musa bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena ketaatannya kepada Allah.
Panggilan yang Disertai Keraguan
Ketika Tuhan memanggil Musa dari semak yang menyala tetapi tidak terbakar, Musa merasa tidak layak. Ia menyadari kelemahannya dan takut melangkah sendirian. Karena itu Musa berkata kepada Tuhan bahwa ia tidak akan bertindak tanpa penyertaan-Nya. Tuhan meneguhkan Musa dengan janji yang kuat:
“Bukankah Aku akan menyertai engkau?”
(Keluaran 3:12)

Janji inilah yang menjadi dasar langkah Musa. Ia tidak mengandalkan kefasihan bicara atau keberanian pribadi, tetapi kehadiran Tuhan yang berjalan bersamanya.
Melangkah dalam Iman, Bukan Keberanian Sendiri
Ketika Musa berdiri di hadapan Firaun, hatinya gentar. Namun ia taat menyampaikan firman Tuhan. Setiap tulah yang terjadi bukanlah hasil kuasa Musa, melainkan karya Allah. Musa belajar bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang memerintah, tetapi tentang taat mendengar dan setia melangkah bersama Tuhan.

Saat bangsa Israel akhirnya keluar dari Mesir dan terhimpit di depan Laut Teberau, Musa sekali lagi menunjukkan imannya kepada penyertaan Tuhan:
“Jangan takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN.”
(Keluaran 14:13)
Dan Tuhan membuka jalan di tengah laut—sesuatu yang mustahil bagi manusia, tetapi mungkin bagi Allah.
Pemimpin yang Bertumbuh dalam Penyertaan Tuhan
Perjalanan di padang gurun tidak mudah. Bangsa Israel sering bersungut-sungut, dan Musa pun lelah. Namun ia tidak melangkah tanpa Tuhan. Ia berani berkata:
“Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.”
(Keluaran 33:15)
Doa ini menunjukkan hati Musa: lebih baik berhenti daripada berjalan tanpa penyertaan Tuhan.
Akhir yang Penuh Makna
Akhirnya, Musa berhasil memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian (meski ia sendiri tidak masuk ke dalamnya). Ia dikenal bukan sebagai pemimpin yang sempurna, tetapi sebagai pemimpin yang hidupnya bergantung penuh pada Tuhan.

Refleksi:
Kisah Musa mengajarkan bahwa keberhasilan sejati dalam hidup dan kepemimpinan bukan berasal dari kemampuan diri, melainkan dari ketaatan dan ketergantungan pada Tuhan. Seperti Musa, kita pun dipanggil untuk melangkah dengan iman—bukan sendirian, tetapi bersama Tuhan yang menyertai.
- Musa menyadari bahwa ia tidak sanggup memimpin tanpa penyertaan Tuhan.
Dalam situasi apa kamu pernah merasa tidak mampu dan membutuhkan Tuhan secara nyata? - Musa berani berkata, “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat.”
Apa arti kalimat ini bagi kehidupanmu sebagai pelajar saat harus mengambil keputusan penting?
Mengapa menurutmu Tuhan memilih Musa yang merasa lemah dan ragu, bukan orang yang merasa kuat dan percaya diri?
Musa tetap taat meskipun menghadapi Firaun, bangsa Israel yang bersungut-sungut, dan tantangan besar.
Bagaimana sikap taat kepada Tuhan dapat membentuk karaktermu di lingkungan dan keluarga?
************************************************************************************************


