Lydia adalah seorang wanita muda yang dikenal ramah dan ringan tangan. Ia tinggal di sebuah lingkungan yang hangat, di mana para tetangga saling mengenal dan saling menolong. Suatu hari, beberapa ibu-ibu PKK di lingkungannya meminta tolong kepadanya untuk diantar menghadiri arisan di sebuah kafe. Lydia mengangguk dengan senyum tulus dan berjanji akan mengantar mereka menggunakan mobil keluarga.
Janji itu ia ucapkan dengan sungguh-sungguh. Apalagi ibu-ibu PKK tersebut bukan orang asing baginya. Mereka adalah tetangga yang baik, yang pernah berjaga dan membantu keluarganya ketika ibunya sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Lydia merasa berutang kebaikan.

Namun, hari yang dinanti tiba dengan cuaca yang tidak bersahabat. Sejak pagi, hujan turun semakin deras. Langit kelabu, angin kencang, dan genangan air mulai tampak di beberapa sudut jalan. Lydia mulai gelisah, tetapi ia tetap bersiap.
Ketika Lydia menyampaikan rencananya kepada ibunya, wajah sang ibu tampak khawatir. Dengan suara lembut namun tegas, ibunya berkata bahwa ia tidak mengizinkan mobil dipakai dalam cuaca seburuk itu. Bukan karena tidak ingin menolong tetangga, melainkan karena takut mobil mereka rusak atau bahkan terendam banjir.
Mobil itu sangat berarti bagi keluarga mereka. Dibeli dengan perjuangan panjang dan pengorbanan besar, mobil tersebut adalah kendaraan pertama yang mereka miliki. Ibu Lydia tahu betul risiko hujan deras dan jalanan yang rawan banjir.

Lydia terdiam. Hatinya diliputi dilema. Di satu sisi, ia merasa sungkan dan tidak enak hati kepada ibu-ibu PKK. Ia telah berjanji. Di sisi lain, ibunya adalah orang tua yang harus dihormati dan ditaati. Ketegangan pun sempat muncul di antara mereka, bukan dalam bentuk kemarahan, tetapi dalam diam yang berat dan hati yang sama-sama bergumul.
Akhirnya, dengan air mata yang tertahan, Lydia memilih untuk mematuhi nasihat ibunya. Ia memberanikan diri menghubungi ibu-ibu PKK, menyampaikan permintaan maaf dengan penuh kerendahan hati. Ia menjelaskan keadaan dan cuaca yang tidak memungkinkan. Kata-kata itu terasa berat keluar dari mulutnya. Lydia tahu ia mengecewakan orang-orang baik yang pernah menolong keluarganya.
Ia harus menegarkan hati, mengalahkan perasaannya sendiri demi menjaga damai di dalam keluarganya.
Mereka berangkat dengan taxi online. Sepanjang perjalanan Lydia hanya diam, menyesal telah bersitegang dengan ibunya yang jarang terjadi. Tak lama setelah itu, hujan turun semakin deras. Air meluap di beberapa jalan utama. Berita banjir mulai terdengar. Lydia memandang keluar jendela dengan perasaan campur aduk. Dalam hatinya, ia mengakui bahwa benar kata ibunya. Jika ia memaksakan diri, mobil keluarga mereka bisa saja rusak, bahkan tenggelam oleh banjir.

Di tengah rasa lega itu, Lydia belajar sesuatu yang berharga: nasihat orang tua sering kali lahir dari kasih dan pengalaman, bukan dari keegoisan. Kadang ketaatan menuntut pengorbanan perasaan, tetapi di sanalah kedewasaan bertumbuh.
Lydia berdoa agar ibu-ibu PKK memahami keputusannya. Ia percaya, kebaikan tidak selalu harus dibalas dengan tindakan yang berisiko. Ada kalanya, menjaga amanah keluarga dan menaati orang tua adalah bentuk tanggung jawab yang lebih besar.
Dan di balik hujan deras hari itu, Lydia menemukan pesan yang meneduhkan hati:
mengalah bukan berarti kalah, dan ketaatan yang lahir dari kasih akan selalu membawa kebaikan, meski jalannya tidak mudah.
1 Petrus 5:5 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
*************************************************************************************************
![]()


